Mangga Arumanis Khas Rembang

Posted: 1 Desember 2011 in ekonomi, Semua Berita
Tag:,

Berita Rembang, Kota–Buah mangga merupakan salah satu komoditas unggulan Kabupaten Rembang. Luas panen komoditas tanaman ini di Kabupaten Rembang sebanyak 433.721 pohon dengan produksi 536.109 kw dan produktivitas 123,61 kg/pohon. Sebaran luasan panen terbanyak di Kecamatan Sulang sebesar 137.781 pohon, disusul Kecamatan Sluke sebanyak 64.361 pohon, Kecamatan Gunem sebanyak 51.269 pohon, Kecamatan Pancur sebanyak 44.000 pohon dan Kecamatan Bulu sebanyak 28.240 pohon. (sumber Statistik Pertanian dan Kehutanan Tahun 2009).

Produksi Mangga di Kabupaten Rembang

Produksi Mangga di Kabupaten Rembang

Jenis mangga yang paling dikenal di kabupaten ini adalah mangga arumanis atau oleh masyarakat setempat sering disebut mangga gadung. Pada saat musim panen raya, mangga banyak dipasarkan ke Jakarta melalui jasa pengepul di Kecamatan Lasem dan Kragan.
Guna mengantisipasi musim panen raya agar tidak terjadi over produksi mangga, para pelaku usaha komoditas ini telah mengupayakan produksi olahan, diantaranya untuk sirup dan kripik mangga.

Secara kelembagaan pada tahun 2010 sudah dibentuk klaster mangga melalui fasilitasi Forum Economic Development and Employment Promotion (FEDEP), dengan susunan keanggotaan sebagai berikut:

Ketua               : Kusni
Wakil Ketua       : Darmani, Jumadi, Sukarman
Sekretaris          : Sunardi
Bendahara         : Hastekno
Alamat              : Karangharjo RT. 03/II Kragan (Sumber: Profil Klaster FEDEP Rembang)

Pada Tahun 2011 ini Klaster Mangga mendapatkan bantuan alat vacuum frying dari Balitbang Provinsi Jawa Tengah. Bantuan peralatan olahan buah mangga untuk pembuatan criping ini sebanyak 1 unit. Namun ketika diuji coba peralatan tersebut tidak bisa dipakai, demikian disampaikan oleh Kusni ketua klaster mangga. “ketika kami mencoba, maka buah mangga yang dimasukkan kedalam vacuum frying menjadi bubur”, demikian kata Kusni saat ditemui Berita Rembang di ruang FEDEP Rembang, Kamis, 1 Desember 2011.  Ketika hal ini oleh Kusni dikonfirmasikan ke Balitbang Provinsi Jawa Tengah, solusi yang ditawarkanpun (yaitu memasukkan dulu bahan ke dalam freezer atau dikasih njet sebelum dimasukkan vacuum frying) tidak memberi jalan keluar. “buah mangganya tetap jadi bubur ketika dimasukkan vacuum frying, meskipun sudah didahului dengan memasukkan ke freezer atau memberi njet”, terangnya. Atas kejadian ini Kusni atas nama klaster mengajukan komplain kepada Balitbang untuk dilakukan perbaikan atau bahkan penggantian peralatan.

Komentar ditutup.