PASANG SURUT USAHA BATIK TULIS LASEM

Posted: 9 Desember 2011 in ekonomi, Semua Berita, sosial budaya, WISATA
Tag:, , ,

Industri batik Lasem telah mengalami masa pasang surut. Puncak kejayaan batik Lasem terjadi pada sekitar akhir abad ke-19 sampai dengan tahun 1970-an. Industri batik yang cukup besar di Hindia Belanda saat itu adalah batik Surakarta, batik Yogyakarta, batik Pekalongan, batik Lasem, batik Cirebon, dan batik  Banyumas.

Pemasaran batik Lasem tidak hanya di wilayah Indonesia saja, tetapi juga meluas sampai ke wilayah Asia Timur terutama Jepang bahkan sampai ke Suriname. Sampai tahun 1970-an, industri batik Lasem menjadi salah satu penopang utama ekonomi masyarakat Lasem dan masyarakat di desa-desa sekitarnya. Sekitar 90 % penduduk Lasem khususnya kaum perempuan bekerja sebagai pengrajin, pengusaha, dan pekerjaan lain yang terkait dengan batik. Namun saat ini hanya tinggal 10% penduduk yang masih bekerja sebagai pembatik. Kemerosotan ini disebabkan oleh jumlah modal yang kecil, sehingga banyak pengusaha batik bangkrut dan menutup usahanya. Krisis moneter yang terjadi sekitar tahun 1997  berdampak pada industri batik Lasem yang semakin lesu.  Keadaan ini mengancam kelestarian usaha batik Lasem.

Para pembatik di Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang pada umumnya adalah para wanita yang berasal dari keluarga petani gurem atau buruh tani di 25 desa dari 4 kecamatan di Kabupaten Rembang. Pekerjaan membatik dilakukan pada waktu luang di antara masa tanam dan masa panen dengan tujuan untuk menambah penghasilan keluarga. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa industri batik Lasem memiliki peran yang sangat penting untuk perluasan lapangan kerja dan penanggulangan kemiskinan di wilayah Kabupaten Rembang.

Kondisi industri batik Lasem yang semakin lesu sejak tahun 1997 sampai sekitar tahun 2003, terancam punah karena sebagian besar generasi muda tidak berminat menekuni pekerjaan sebagai pembatik atau usaha batik Lasem. Generasi muda di Kabupaten Rembang lebih banyak yang memilih bekerja di sektor  lain di luar industri batik, baik di dalam maupun di luar kota Rembang. Hal ini menimbulkan dua  masalah serius yaitu penghasilan penduduk miskin semakin merosot dan ancaman kepunahan batik Lasem.

Iklan

Komentar ditutup.