Banyak Aset Pemkab. Rembang [?] yang Tidak Dimanfaatkan: Buruknya Perencanaan, Tingginya Kepentingan Elit, Rendahnya SDM Atau….?

Posted: 19 Januari 2012 in opini
Tag:, , ,

Beberapa waktu yang lalu tentu Anda masih ingat pemberitaan di media tentang bangunan di kawasan Bonang Binangun Sluke (BBS) Desa Binangun yang jadi tempat mesum. Pemberitaan tersebut langsung mendapat respon pemangku kepentingan di Rembang, terbukti pasca pemberitaan tersebut ketua Komisi D DPRD Rembang kala itu Joko Suprihadi langsung terjun ke lokasi. Dikalangan eksekutif langsung diterjunkan Satpol PP, yang mampu menjaring beberapa pasangan muda-mudi yang sedang asyik di lokasi tersebut.
Bangunan yang merupakan satu paket dengan BBS ini adalah salah satu contoh aset Pemerintah di Kabupaten Rembang yang mangkrak. Ketika Berita Rembang melakukan investigasi memang kondisi bangunan cukup memprihatinkan. Genting sudah banyak yang klorot, plavon ambrol beberapa kaca pecah dan disana sini banyak coretan dengan kata-kata yang tidak layak. Nampak pula sepasang muda-mudi dengan baju seragam sekolah sedang asyik mojok dibalik semak-semak disebelah bangunan.
Disamping bangunan dikaawasan BBS tersebut masih ada aset lain yang juga mangkrak, sebut saja bangunan pengeringan ikan yang terletak di daerah Kali Untu (kiri jalan dari arah Rembang kota). Bangunan yang memakan biaya pemerintah tidak sedikit itu kini hanya jadi tempat warung “Layar Putih” dan beberapa warung kopi.
Di wilayah Rembang bagian selatan, ketika Anda melakukan perjalanan ke arah Blora disamping GOR Mbesi (yang kemanfaatannya kurang maksimal), didepannya Anda dapat melihat sederet bangunan semacam ruko terbuka yang juga mangkrak. Beberapa kali telah diupayakan dimanfaatkan termasuk untuk penjual lonthong tuyuhan (sangat jauh beda dengan peruntukan diawal perencanaan), toh juga tidak jalan lagi.
Diwilayah selatan agak ketimur, tepatnya di Bedog Pamotan ada bangunan mewah PGM yang belum ada tanda-tanda aktivitas produksi selayaknya sebuah pabrik.
Pertanyaannya kenapa kok bisa sampai seperti ini?
Ada beberapa kemungkinan penyebab kondisi tersebut, diantaranya: Pertama, kurang tepatnya perencanaan pra pembangunan. Pembangunan tidak diawali dengan Feasibility Study, DED atau semacamnya yang benar-benar valid dan bebas kepentingan. Kedua, tingginya kepentingan elit baik pra maupun saat proyek pembangunan dilaksanakan, sehingga asal mbangun dan dapat keuntungan finansial dari proyek tersebut. Ketiga, rendahnya SDM baik di tingkat perencana, pelaksana maupun user. Atau Anda punya argumentasi lain….
Tentunya sebagai masyarakat Rembang kita berharap kondisi demikian segera bisa diatasi, atau setidaknya tidak lagi terulang hal yang sama.

tulisan terkait: kawasan-bbs-yang-berubah-menjadi-kawasan-“bbs”sentra-bordir-dan-batik-di-kragan-sepi-pengunjung-dan-peminat

Komentar ditutup.