Menimbang Untung Rugi Bagi Masyarakat Terkait Rencana Pendirian Pabrik Semen Gresik di Rembang

Posted: 4 Februari 2012 in opini
Tag:, , , ,

PT. Semen Gresik--semengresik.com

PT. Semen Gresik--semengresik.com

Beberapa waktu yang lalu PT. Semen Gresik berencana membangun industrinya di Kabupaten Pati, namun rencana itu gagal karena mendapat penolakan dari masyarakat setempat. Atas penolakan itu pihak Semen Gresik mulai melirik ke wilayah kabupaten tetangga, dan akhirnya diputuskan di Rembang. Pilihan ini sudah final, karena proses Amdal (analisis dampak lingkungan) sudah selesai dan tahun ini akan segera dimulai pembangunan fisik.

Pro Kontra Pendirian PT. Semen Gresik di Pati, seharusnya menjadi pembelajaran bagi masyarakat Rembang

Berbeda dengan masyarakat Pati, di Rembang nyaris tidak ada gejolak atas rencana pendirian pabrik semen tersebut. Tentu ini menjadi pertanyaan tersendiri, kalau di pati saja mendapat penolakan kenapa di Rembang tidak, Sementara dampak yang akan ditimbulkan atas rencana pendirian pabrik semen di Rembang dan Pati tentu relatiif sama.

Belajar dari Pati, rencana pendirian Pabrik Semen Gresik di Sukolilo mengundang sejumlah perdebatan sengit yang akhirnya membelah mayarakat ke dalam dua kutub yang saling bertentangan: pro dan kontra. Secara umum, masyarakat yang setuju rata-rata memiliki harapan akan mendapatkan pekerjaan yang lebih menarik dari sekedar bertani. Masyarakat ini juga menaruh kepercayaan pada PT. Semen Gresik yang menjamin tidak akan merusak lingkungan serta menjamin pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat jika ada kerusakan pada mata air mereka. Selebihnya, masyarakat golongan ini merasa tidak berdaya karena menganggap rencana penambangan tersebut merupakan keputusan pemerintah yang sudah tidak bisa diganggu gugat.

Di lain pihak, masyarakat yang menolak rencana penambangan umumnya memiliki kekhawatiran akan keselamatan lingkungan mereka, terutama pada lahan pertanian dan suplai air dari mata air untuk kebutuhan sehari-hari.  Kelompok masyarakat ini tidak termakan janji yang dilontarkan oleh pihak perusahaan, karena tidak percaya akan kebenaran realisasinya. Hal ini didasarkan pada fakta yang sudah ada, dimana setiap industri besar berdiri pasti akan melahirkan persoalan baru yang jauh lebih pelik.

Janji “surgawi” itu namanya kesejahteraan

Selama ini, dalam upaya untuk mempengaruhi opini masyarakat agar menyetujui/menerima kehadiran Pabrik Semen Gresik, baik pihak Pemerintah Kabupaten Rembang maupun pabrik semen, selalu menggunakan janji-janji ”surgawi” mengenai kesejahteraan. Adanya pabrik semen nanti digambarkan akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Meski kesejahteraan yang dimaksud itu masih belum jelas. Namun jika dicermati, kesejahteraan itu kerap diindikasikan dari tenaga kerja yang akan direkrut/ditampung oleh Semen Gresik jika pabrik ini nantinya sudah berdiri.

Benarkah jika pabrik Semen Gresik nanti berdiri mampu menampung tenaga kerja banyak dan bisa mengurangi pengangguran? Jawabannya tentu tidak, bahkan justru akan menambah jumlah pengangguran di masyarakat. Sebab jumlah tenaga kerja yang terserap dalam rencana ini tidak sebanding dengan jumlah tenaga kerja yang dapat ditampung dalam lahan pertanian.

Harus diingat bahwa kualitas SDM disekitar lokasi Semen Gresik jika diukur dari tingkat keahlian dan pendidikan adalah rendah, tentu perusahaan tidak akan merekrut SDM dengan kualitas yang demikian.

Dampak yang Ditimbulkan tidak akan pernah sebanding dengan kesejahteraan yang dijanjikan

Berdasarkan pengklasifikasian fisiografi Jawa (Bemmelen, 1949), maka Kawasan Kars Gunem Rembang terletak pada pegunungan Kendeng (antiklinorium Bogor – Serayu Utara – Kendeng).  Tepatnya pada Pegunungan Kendeng Utara yang merupakan lipatan perbukitan dengan sumbu membujur dari arah Barat – Timur dan sayap Lipatan berarah Utara – Selatan.

Kendeng Utara sebagai daerah sumber mata air untuk pertanian, sehingga dengan ditambangnya kawasan tersebut kekeringan akan terjadi.

Disamping itu dengan 600-800 hektar lahan yang akan digunakan untuk pabrik Semen Gresik, jelas akan memunculkan dampak pada lingkungan maupun masyarakat sekitar. Dampak dari akan dikeprasnya pegunungan kapur dan diambilnya tanah liat untuk bahan baku semen akan mengakibatkan beberapa dampak sebagai berikut:

  • Perubahan pada produktivitas, aktivitas produksi masyarakat setempat.
  • Perubahan fungsi lahan-lahan pertanian menjadi daerah hunian dan berbagai macam bangunan.
  • Perubahan fungsi lahan perikanan menjadi daerah industri dengan tingkat kepadatan yang tinggi.

Selain dampak lingkungan, industrialisasi akan membawa dampak sosial bagi masyarakat sekitar, antara lain:

  • Perpindahan tempat tinggal yang berarti tergusurnya masyarakat lokal dan digantikan oleh masyarakat pendatang yang memiliki modal lebih besar.
  • Hilangnya mata pencaharian sebagian besar masyarakat wilayah gunem dan sekitarnya yang menggantungkan hidupnya pada keberadaan lahan pertanian.
  • Hilangnya semangat kebersamaan dikarenakan tenaga kerja yang diserap oleh industri semen jelas tidak akan menampung seluruh tenaga kerja yang telah kehilangan lahan pertanian. Kondisi ini jelas akan memicu persaingan yang menjurus pada konflik pada masyarakat sekitar lokasi pabrik semen.
  • Rusaknya tatanan sosial dan budaya karena proses industrialisasi akan memunculkan banyaknya tempat-tempat hiburan yang cenderung menuju ke arah kemaksiatan.

Selain itu, proses penambangan secara besar-besaran akan membawa dampak pada keseimbangan lingkungan, misalnya perubahan ekosistem pada lingkungan sekitar, hilangnya sumber mata air, polusi udara, polusi suara, zat-zat beracun dalam limbah pabrik, dan perubahan suhu udara.

Dengan adanya bukti banyaknya bencana alam seperti banjir, kekeringan,  tanah longsor, lumpur Lapindo, dan lain-lain, satu-satunya jalan untuk mengurangi bencana tersebut hanyalah menghijaukan kembali Pegunungan Kendeng menjadi kawasan  lindung bukan malah merusaknya.

Melihat untung rugi yang demikian, masihkan kita berikan ruang dan waktu para pemodal itu untuk merusak lingkungan kita.

Baca Juga:

Komentar ditutup.