Sertifikasi Guru Rembang, Satu dari Beragam Persoalan Pendidikan di Kabupaten Rembang

Posted: 11 Februari 2012 in opini, pendidikan
Tag:, , , , ,

Bekerja profesional dengan gaji besar tentu menjadi harapan setiap orang. Begitulah harapan guru dimasa lalu yang disambut baik oleh pemerintah dengan menerapkan kebijakan sertifikasi guru. Namun, sebagai bangsa yang belum dewasa. selalu saja ada oknum yang mencari “jalan cepat” guna memuluskan upaya mereka agar segera lolos sertifikasi.

Banyaknya karya ilmiah aspal (asli tapi palsu) sepanjang proses sertifikasi guru,   dan pungutan-pungutan yang dilakukan oleh oknum aparat kependidikan adalah sebentuk rendahnya mentalitas guru untuk bersaing secara kompetitif dan sebentuk ketidakseriusan pemerintah daerah (oknum aparat kependidikan) untuk menjaring guru yang memang layak mendapatkan sertifikatifikasi (profesional).

Terbaru, kasus penitipan sejumlah uang antara Rp.600.000-Rp.3.000.000 di Pancur Rembang dari oknum guru sebagai iming-iming agar lolos saat melakukan ujian kompetensi sebagai syarat  sertifikasi ibarat “jual beli” yang dilakukan oleh kedua belah pihak yang sama-sama gelap mata dan (maaf) tidak bermoral. Gaji besar pasca sertifikasi bagi oknum guru dan keinginan memanfaatkan moment untuk memperkaya diri bagi oknum aparat UPT Pendidikan (atau yang lainnya) merupakan motivasi bagi oknum untuk melakukan cara yang tidak bermoral dan jauh dari harapan awal munculnya gagasan sertifikasi.

Belum lagi, syarat S1 bagi guru untuk sertifikasi menyisakan polemik sendiri. Larangan kelas jauh yang pernah menjadi kebijakan “bias” di Rembang tidak serta merta mendapatkan perhatian yang serius dari Pemerintah Kabupaten Rembang. PT juauhh yang menyelenggarakan pendidikan di Rembang masih saja ada seperti IKIP Kediri, Kanjuruhan dan lain sebagainya.  Tampaknya BKD Rembang juga tidak serius dalam persoalan ini atau?????????.

Tulisan terkait:

Puluhan Guru di Pancur Resah Soal Pungutan Liar

Guru, Dilema antara Sertifikasi dan Profesionalisme

Komentar ditutup.