Kartini Pahlawan Wanita dari Rembang Jawa Tengah

Posted: 13 April 2012 in opini
Tag:, , , , , , ,

Sebentar lagi tanggal 21 April akan segera datang, itu artinya Rembang akan disibukkan dengan aneka kegiatan dalam rangka menyambut hari Kartini. Ya, secara historis Rembang memiliki kaitan erat dengan pahlawan wanita ini. Tak heran pada hari itu, anak-anak sekolah “diwajibkan” berbusana jawa (kebaya) dan serangkaian kegiatan memperingati pahlawan emansipasi ini diselenggarakan. Siapa sosok kartini tersebut? Berikut tulisan tentang Kartini yang diambil dari beberapa sumber diantaranya wikipedia.

Siapa Kartini?

Kartini bersama Suaminya

Kartini bersama Suaminya
Koleksi : Abendanon, E.C.
Tanggal : 1903-12-17
Artist: Tee Han Sioe / Rembang

Raden Adjeng Kartini adalah seseorang wanita dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara dari istri M.A. Ngasirah. Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.
Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.
Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.
Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda. Kemampuan Kartini berbahasa Belanda dan kecintaannya membaca buku-buku berkelas itulah yang membuat kartini memiliki pemikiran yang berbeda dengan kaum wanita dimasanya.
Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di Rembang.
Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, R.M. Soesalit, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkandi Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

makam kartini

makam kartini di Rembang

Kartini banyak menciptakan dan mengarang Buku – buku dan Surat – surat yang penuh dengan semangat dan perjuangan terutama bagi kaum wanita, diantaranya:
1.Habis Gelap Terbitlah Terang
2.Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
3.Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904
4.Panggil Aku Kartini Saja
5.Kartini Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan suaminya

Baca Juga:

Komentar ditutup.