Posts Tagged ‘ABT’

Kragan, meskipun mendapat penolakan warga, usaha ABT atas nama Abdul Wahid Desa Sumbersari Kecamatan Kragan mendapatkan ijin. Ijin tersebut tertuang dalam Keputusan Bupati Rembang Nomor 545.2/864/2012 tertanggal 31 Oktober 2012.

Munculnya ijin tersebut sontak membuat warga kaget dan geram, mengingat sebelumnya telah terjadi penolakan warga atas usaha ABT di Desa Sumbersari Kecamatan Kragan.

Menurut seorang warga Masrokhim (45 tahun), warga merasa kecewa dengan keluarnya ijin tersebut. “Bagaimana kami tidak kecewa, sebelumnya setelah melalui beberapa pertemuan, terakhir dirumah salah seorang pengusaha yaitu saudara Sakroni (salah seorang pengusaha ABT-red) pada tanggal 13 September 2012, dengan disaksikan kepala desa, pengusaha dan pihak ESDM, warga sepakat hitam diatas putih untuk menutup usaha ABT”, terang Masrokhim.

Sementara itu menurut Kanes (27 tahun), dia merasa kecewa dengan keluarnya ijin tersebut. “Kami merasa kecewa, bagaimana tidak, karena sesuai dengan keterangan dinas ESDM saat pertemuan warga, bahwa warga akan dilibatkan dalam pengusahaan ABT diantaranya melalui ekspose atas hasil kajian dan persetujuan warga sekitar, tapi kali ini tidak ada acara tersebut dengan serta merta keluar ijin”, terang Kanes.

Masrokhim menambahkan, ada yang janggal dengan ijin tersebut, diantaranya pada konsideran SK bupati huruf b, tertulis surat rekomendasi dari ESDM nomor dan tanggalnya masih kosong (sambil menunjukkan copyan SK-red). Satu lagi, tanggal permohonan ijin dari pengusaha berbeda antara yang tertuang dalam konsideran huruf a SK Bupati dan surat ESDM Nomor 545.2/544/2012 perihal pemberitahuan. Pada SK Bupati tertulis tanggal 17 September 2012 sedangkan pada surat ESDM permohonan ijin dari pengusaha tertanggal 4 September 2012. “Ini kan kesannya SK tersebut asal-asalan”, lanjut Masrokhim. “Jangankan ada nomor rekomendasi yang masih kosong, bukannya salah huruf capital saja, draft SK seharusnya dikembalikan oleh pihak bagian hukum”, terang Masrokhim.
Ungkapan senada disampaikan oleh Sulastri (36 tahun). Dia merasa dengan keluarnya ijin tersebut sebagai bentuk tidak dihargainya aspirasi warga oleh pemangku kepentingan. “Aneh kenapa para pejabat public itu tidak mengindahkan aspirasi warga, buktinya bisa mengabulkan permohonan ditengah konflik, sementara pendayagunaan ABT sesuai Perda Kabupaten Rembang Nomor 6 Tahun 2011 harus melibatkan/mengikutsertakan masyarakat”, terang ibu satu anak ini.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, warga merasa resah dengan usaha ABT di Desa Sumbersari. Ada tiga usaha ABT di wilayah ini yang pada saat itu tidak berijin. Atas keluhan warga ketua BPD mengirimkan surat kepada Bupati Rembang nomor 004/bpd/VIII/2012 tanggal 26 Agustus 2012.

Berita terkait:

3 Titik ABT Bodong Akhirnya ditutup

Warga Resah, Marak Bisnis ABT Tidak Berijin

Maraknya Penjualan Air Bersih di Kabupaten Rembang, Kepentingan Ekonomi yang Abaikan Lingkungan

Rapat mambahas ABT Desa Sumbersari Kecamatan Kragan

Rapat mambahas ABT Desa Sumbersari Kecamatan Kragan

Berita Rembang, Kragan, Pertemuan antara warga, pemerintah desa, BPD dan dinas instansi terkait yang dilaksanakan pada 5 September 2012 di Balai Desa Sumbersari, akhirnya menyimpulkan bahwa usaha ABT ditutup. Dalam kesimpulannya kepala desa Rahmat, ST, menetapkan bahwa semua usaha ABT ditutup karena tidak berizin. “Berdasarkan kesepakatan semua pihak terkait, semua usaha ABT mulai hari ini Rabu, 5 September 2012 ditutup sampai dengan ada izin sesuai perundangan yang berlaku”, terang Rahmat.

Sementara itu Sigit Dwi Saputro dari ESDM Rembang dalam sambutannya menyatakan bahwa pengelolaan ABT harus dilengkapi dengan perizinan baik pengelolaan maupun pengusahaan. “Usaha harus mendapatkan persetujuan dari tetangga sekitar, minimal radius 100 meter dari lokasi usaha”, terang sigit. “Aspek sosial merupakan salah satu pertimbangan untuk mengeluarkan izin”, lanjut Sigit.
Salah satu pengusaha Roni, menyatakan sanggup mematuhi keputusan pihak desa. “kalau itu sudah menjadi keputusan bersama, kami siap menerima, terang roni.
Sulastri salah seorang warga mengatakan, bahwa sebagai tetangga dekat usaha milik Roni sudah merasakan dampak usaha ABT ini. “Saya berpikirnya bukan saat ini saja, tapi lebih pada dampak dimasa mendatang. Mengingat air merupakan kebutuhan pokok”, terang Sulastri yang juga seorang guru ini.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, warga resah atas usaha ABT di Sumbersari Kragan. Warga sudah merasakan dampak usaha ABT tersebut sehingga melalui BPD melayangkan surat kepada pihak terkait.

Berita Rembang- Kragan, Dugaan warga, bahwa maraknya jual beli air bawah tanah (ABT) di Desa Sumbersari Kecamatan Kragan Kabupaten Rembang tidak dibekali dengan ijin terbukti sudah. Hal ini terungkap saat dilakukan kunjungan lapangan oleh Dinas ESDM Kabupaten Rembang pada Selasa (28/08).

M. Rondi, Ketua BPD

M. Rondi, Ketua BPD

“Dari 3 titik ABT yang ada, ketiganya tidak berijin, dengan rincian, milik sdr. Ali ijin sudah mati sejak tahun 2009, milik sdr. Wahid dan Roni tak pernah ada ijin”, terang Sigit (ESDM Rembang) saat dihubungi Berita Rembang melalui telpon seluler.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, karena resah warga melaporkan eksplorasi ABT kepada Bupati Rembang. Atas laporan tersebut pihak Pemkab segera melakukan kunjungan lapangan. Pertemuan dilakukan dibalai desa dilanjutkan dengan pengecekan sumur ABT.

Ditanya soal kelanjutan temuan oleh ESDM tersebut ketua BPD M. Rondi mengatakan akan segera dilakukan pertemuan lanjutan antara pengusaha dan warga. “Sesuai hasil kesepakatan hari ini (kemarin-red) kami akan meminta pihak Pemdes untuk agendakan pertemuan. Mungkin Selasa atau Rabu depan, menunggu Kades pulang dari mudik”, terang Rondi. “Kalau nanti hasil temuan itu terbukti keberadaan ABT tidak memenuhi syarat, kami atas nama warga akan meminta pihak Pemkab segera menutup tempat usaha. Seharusnya penutupan itu sejak dari hari ini (selasa, 28/8-red), namun karena pertimbangan kemanusiaan kita tunggu saja hasil pertemuan minggu depan”, lanjut Rondi.

Terpisah, Arif salah seorang warga mengaku kecewa dengan lambatnya penanganan usaha tak berijin ini. “Bisa dibayangkan jika usaha yang sudah berjalan sejak tahun 2006-an  ini ternyata bodong, berapa kerugian warga jika dimateriilkan”, terangnya.

Berita Terkait:

Maraknya Penjualan Air Bersih di Rembang,  Kepentingan Ekonomi yang Abaikan Lingkungan