Posts Tagged ‘air bawah tanah’

Rapat mambahas ABT Desa Sumbersari Kecamatan Kragan

Rapat mambahas ABT Desa Sumbersari Kecamatan Kragan

Berita Rembang, Kragan, Pertemuan antara warga, pemerintah desa, BPD dan dinas instansi terkait yang dilaksanakan pada 5 September 2012 di Balai Desa Sumbersari, akhirnya menyimpulkan bahwa usaha ABT ditutup. Dalam kesimpulannya kepala desa Rahmat, ST, menetapkan bahwa semua usaha ABT ditutup karena tidak berizin. “Berdasarkan kesepakatan semua pihak terkait, semua usaha ABT mulai hari ini Rabu, 5 September 2012 ditutup sampai dengan ada izin sesuai perundangan yang berlaku”, terang Rahmat.

Sementara itu Sigit Dwi Saputro dari ESDM Rembang dalam sambutannya menyatakan bahwa pengelolaan ABT harus dilengkapi dengan perizinan baik pengelolaan maupun pengusahaan. “Usaha harus mendapatkan persetujuan dari tetangga sekitar, minimal radius 100 meter dari lokasi usaha”, terang sigit. “Aspek sosial merupakan salah satu pertimbangan untuk mengeluarkan izin”, lanjut Sigit.
Salah satu pengusaha Roni, menyatakan sanggup mematuhi keputusan pihak desa. “kalau itu sudah menjadi keputusan bersama, kami siap menerima, terang roni.
Sulastri salah seorang warga mengatakan, bahwa sebagai tetangga dekat usaha milik Roni sudah merasakan dampak usaha ABT ini. “Saya berpikirnya bukan saat ini saja, tapi lebih pada dampak dimasa mendatang. Mengingat air merupakan kebutuhan pokok”, terang Sulastri yang juga seorang guru ini.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, warga resah atas usaha ABT di Sumbersari Kragan. Warga sudah merasakan dampak usaha ABT tersebut sehingga melalui BPD melayangkan surat kepada pihak terkait.

Berita Rembang- Kragan, Dugaan warga, bahwa maraknya jual beli air bawah tanah (ABT) di Desa Sumbersari Kecamatan Kragan Kabupaten Rembang tidak dibekali dengan ijin terbukti sudah. Hal ini terungkap saat dilakukan kunjungan lapangan oleh Dinas ESDM Kabupaten Rembang pada Selasa (28/08).

M. Rondi, Ketua BPD

M. Rondi, Ketua BPD

“Dari 3 titik ABT yang ada, ketiganya tidak berijin, dengan rincian, milik sdr. Ali ijin sudah mati sejak tahun 2009, milik sdr. Wahid dan Roni tak pernah ada ijin”, terang Sigit (ESDM Rembang) saat dihubungi Berita Rembang melalui telpon seluler.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, karena resah warga melaporkan eksplorasi ABT kepada Bupati Rembang. Atas laporan tersebut pihak Pemkab segera melakukan kunjungan lapangan. Pertemuan dilakukan dibalai desa dilanjutkan dengan pengecekan sumur ABT.

Ditanya soal kelanjutan temuan oleh ESDM tersebut ketua BPD M. Rondi mengatakan akan segera dilakukan pertemuan lanjutan antara pengusaha dan warga. “Sesuai hasil kesepakatan hari ini (kemarin-red) kami akan meminta pihak Pemdes untuk agendakan pertemuan. Mungkin Selasa atau Rabu depan, menunggu Kades pulang dari mudik”, terang Rondi. “Kalau nanti hasil temuan itu terbukti keberadaan ABT tidak memenuhi syarat, kami atas nama warga akan meminta pihak Pemkab segera menutup tempat usaha. Seharusnya penutupan itu sejak dari hari ini (selasa, 28/8-red), namun karena pertimbangan kemanusiaan kita tunggu saja hasil pertemuan minggu depan”, lanjut Rondi.

Terpisah, Arif salah seorang warga mengaku kecewa dengan lambatnya penanganan usaha tak berijin ini. “Bisa dibayangkan jika usaha yang sudah berjalan sejak tahun 2006-an  ini ternyata bodong, berapa kerugian warga jika dimateriilkan”, terangnya.

Berita Terkait:

Maraknya Penjualan Air Bersih di Rembang,  Kepentingan Ekonomi yang Abaikan Lingkungan

Berita Rembang-Kragan, Maraknya jual beli Air Bawah Tanah (ABT) di Desa Sumbersari Kecamatan Kragan membuat resah warga. Beberapa warga mengaku sumur yang biasanya tidak pernah kering sekarang sudah tidak keluar air.

“Sumur buat mandi saja sekarang tidak bisa Mas”, kata Arif saat ditemui Berita Rembang. Arif adalah salah satu warga Desa Sumbersari yang rumahnya bersebelahan dengan usaha ABT milik Sakroni.

Suasana pertemuan warga membahas ABT

Suasana pertemuan warga membahas ABT

Selain Arif, beberapa warga juga menyampaikan keluhan yang sama, seperti Diah, Waskun dan Sugiyanto. “untuk mengisi bak mandi saja sekarang butuh waktu 2 jam karena sumbernya mengecil”, kata Waskun yang juga anggota BPD.

Terhadap persoalan ini warga sudah pernah mengeluhkan kepada kepala desa, namun belum ada tindak lanjut. Puncaknya pada tanggal 26 Agustus 2012 dengan difasilitasi oleh BPD, warga mengadakan pertemuan untuk membahas ABT. “Ada 3 titik ABT disini Mas yang mulai meresahkan. Warga sepakat agar pemerintah daerah menutup usaha ini”, terang Rondi, Ketua BPD. “Ketiadaan titik temu penyelesaian persoalan ini dilevel desa, maka kami berinisiatif menyampaikan surat kepada Bapak Bupati.  Harapan kami beliau membuat langkah yang tepat”, terang Rondi mengakhiri perbincangan dengan Berita Rembang.